Electronic Resource
Sailors on the Rocks: Famous Royal Navy Shipwrecks
Buku ini ditulis sebagai jilid pendamping dari karya saya sebelumnya, Sailors in the Dock: Naval Courts Martial Down the Centuries (The History Press, Stroud, 2011), dan mengikuti format yang serupa. Lima belas kasus kapal Angkatan Laut Kerajaan yang menjadi korban karamnya kapal dijabarkan, dengan sorotan pada keadaan yang mendahului kejadian tersebut, gambaran umum tentang kapal itu sendiri, serta tokoh-tokoh utama yang terlibat. Istilah shipwreck (kapal karam) di sini memiliki pengertian khusus: banyak kapal Angkatan Laut Kerajaan yang tenggelam akibat badai, kerusakan dalam pertempuran, atau bahkan kelalaian, tetapi hanya kapal yang terdampar di pantai yang keras dan hilang total yang dimasukkan dalam buku ini. Namun, beberapa kehilangan kapal memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, dan sulit untuk didefinisikan tanpa bukti lebih lanjut yang dipublikasikan, sehingga sukar untuk dipastikan. Karena itu, kapal Association dicantumkan karena informasi terbaru masih disembunyikan saat buku ini ditulis, sedangkan Mary Rose dan Royal George tidak dimasukkan—walaupun merupakan bencana besar—karena kapal-kapal itu tidak terdampar di darat.
Meskipun semua kapal yang dibahas adalah kapal Angkatan Laut Kerajaan, istilah resmi HMS (His/Her Majesty’s Ship) baru digunakan sejak tahun 1789; sebelum itu digunakan sebutan His Britannic Majesty’s Ship, The King’s Ship, atau cukup nama kapalnya saja. Dalam buku ini saya menggunakan artikel tertentu (the) untuk mencakup semua variasi tersebut demi keseragaman. Demikian pula, istilah battleship (kapal tempur) baru populer sekitar pertengahan abad ke-19; sebelumnya digunakan istilah line-of-battleship atau ship-of-the-line (karena formasi line ahead telah menjadi strategi tempur laut standar sejak Perang Belanda Kedua, 1665–1667), dan kapal-kapal ini memiliki berbagai rating berdasarkan jenis dan jumlah meriam yang dibawa. Namun, saya menggunakan kata battleship sepanjang buku ini untuk menggambarkan jenis utama kapal perang pada masa itu.
Dengan cara yang sama, kapal pengintai utama armada—mata armada—selama berabad-abad dikenal sebagai frigate; baru pada pertengahan abad ke-19 sebutan ini berubah menjadi cruiser dan kemudian menjadi berbagai kategori cruiser seperti Armoured atau Protected, dan setelah Perjanjian Laut Washington tahun 1922, menjadi Heavy atau Light, dengan istilah Scout sempat digunakan sebelumnya untuk kapal pemimpin flotila perusak. Saya menggunakan istilah frigate untuk periode sebelum era Victoria, dan sesudah itu saya memakai berbagai istilah cruiser sesuai zamannya.
Tidak tersedia versi lain